Daily Share, Democrazy, Sociolizm

The Lapindo’s Hot Mud, Never Ending Story

07.31.08 | No Comments

Kasus penjagalan oleh Ryan mungkin sedikit mengalihkan perhatian orang-orang terhadap satu kasus yang lebih mematikan daripada penjagalan yang jelas-jelas hanya menghilangkan nyawa belasan orang, yang menurut saya tidak sebanding dengan kerugian yang diderita oleh ribuan korban lumpurnya Mr. Lapindo.

Saya tidak ingin membahas kenapa lubang kecil yang hanya menyemburkan beberapa lumpur itu kini dapat menenggelamkan banyak tempat tinggal masyarakat di sekitar wilayah semburan tersebut.

Kalau saya tidak salah membaca berita dan sajian televisi, sepertinya sudah dua tahun lebih semburan lumpur itu belum dapat dihentikan oleh manusia berbagai macam jenis. Sehingga saya sendiri menyimpulkan manusia memang benar-benar perusak yang tidak akan pernah bisa memperbaiki apapun yang telah Tuhan ciptakan. Tentunya setiap manusia memiliki sifat egois yang cukup tinggi yang menyebabkan kerusakan di muka bumi ini.

Janji ini dan itu sudah banyak tertulis bahkan sudah disiarkan ke seantero negeri tercinta Indonesia, tapi nyatanya sampai saat ini para korban masih belum mendapatkan tempat tinggal yang layak. Memang ada sekelompok orang yang karena idenya yang egois dapat merubah lumpur Mr. Lapindo menjadi uang, dengan merubahnya menjadi salah satu bahan bangunan, tetapi sekali lagi itu hanya pada sekelompok orang.

The Mud on Metro TV

Beberapa hari lalu isteri sempat memberitahu saya, bahwa ada film berjudul The Mud yang akan ditayangkan di Metro TV pada hari kamis, 31 Juli 2008 pukul 20.05. Saya sempat berfikir film apakah gerangan..??

Ternyata The Mud merupakan film dokumenter yang mengisahkan kehidupan para korban Mr. Lapindo. Saya memang tidak serius menonton dokumenter tersebut, karena hanya memiliki satu televisi jadi harus bergantian menunggu tayangan komersial di stasiun TV lain baru saya dapat menontonnya. (Dasar ibu-ibu…:-D;).

Yang dapat saya ingat dari film dokumenter tersebut adalah, ada seorang pak Haji pemilik pesantren dengan ratusan santriwan dan santriwati yang tidak dapat melakukan apa-apa ketika lumpur Mr. Lapindo benar-benar menenggelamkan pesantren mereka. Pak Haji pemilik pesantren pun tidak membayangkan bahwa lumpur tersebut tidak dapat ditanggulangi hingga kini.

Sambil menonton, sambil Googling

Yah googling untuk mendapatkan informasi lebih dari film dokumenter tersebut, dan alhasilnya saya tidak mendapatkan informasi yang memuaskan tentang film dokumenter tersebut.

Di akhir acara ternyata film dokumenter tersebut direkam oleh orang bule. Malah saya sempat berfikir itu adalah film dokumenter orang bule untuk tontonan orang bule juga di negaranya sana, karena film dokumenter tersebut menggunakan narasi berbahasa inggris. Meskipun direkam oleh orang bule ternyata sutradaranya orang Indonesia juga, dan beberapa krunya juga orang Indonesia.

Malu menonton Bangsa Sendiri

Saya sebagai penonton film tersebut merasa malu pada tokoh-tokoh bangsa ini yang selalu saja menimbulkan banyak masalah. Pelecehan seksual yang ngetren di para Anggota DPR, sampai korupsi yang tak kunjung usai.

Tak ada habisnya negara kita dicoba dengan berbagai macam cobaan buruk. Semoga saja cobaan-cobaan tersebut tidak membuat bangsa ini terpuruk, malah sebaliknya harapan saya bangsa kita akan menjadi bangsa yang besar dan maju. Amin….

Share/Save/Bookmark

Related Post

Great Mobile Sites

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.
Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

:

:

Comment Preview

« Perbandingan Joomla 1.0 dan Joomla 1.5
» Kelahiran Putra Pertama