Saya sebagai penduduk bangsa ini sudah capek, muak bahkan malas menonton berita di televisi mengenai ribut BBM yang tiada kunjung usai. Entah apa yang ada di benak pikiran para mahasiswa yang selalu saja berkedok dan menjunjung tinggi reformasi itu.
Dari sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau seakan-akan sudah ada skenario atau mungkin cukup dengan menekan tombol enter para mahasiswa dengan kompaknya melaksanakan demonstrasi, yang sangat disayangkan demonstrasi tersebut pasti ujung-ujungnya adu jotos, tidak jarang para aparat pertahanan keamanan mengeluarkan beberapa peluru yang bakal mengenai para mahasiswa. Kalau sudah mati baru deh…. ujung-ujungnya lari ke lembaga terkait menuntut yang tidak-tidak.
BBM kenapa sih harus demo….!!!!
Beberapa hari lalu sebelum berangkat ke kantor saya sempat menonton VoA yang diputar di Metro TV, salah satu beritanya adalah mengenai harga minyak dunia yang semakin melambung tinggi. Karena VoA adalah suara dari Amerika, pasti yang menjadi sorotan adalah Amerika. Berbeda jauh dengan Indonesia, penduduk Amerika tidak melampiaskan kenaikan harga BBM tersebut dengan ramai-ramai melakukan aksi demo memasak demonstrasi turun ke jalan, berteriak-teriak, mengemis minta BBM jangan dinaikkan, melainkan mereka mencari solusi apa yang berguna jika harga BBM dunia melonjak tinggi.
Dari video berita yang ditayangkan oleh VoA melalui Metro TV tersebut tampak potongan klip beberapa kendaraan yang tidak menggunakan BBM sebagai bahan bakarnya, bahkan mereka berpendapat warga Amerika akan melakukan penghematan luar biasa akibat dari kenaikan BBM dunia.
Apa Pantas dibandingkan dengan Amerika…!!!
Jawaban kita orang bodoh pasti, Amerika kan negara kaya, Super Power, pusat segala perekonomian, jarang penduduk miskin…. Ah…. basi menurut saya kalau kita masih berpikir seperti itu.
Orang-orang Amerika yang menurut persepsi orang Indonesia kaya saja mau melakukan perubahan mulai dari diri sendiri. Dengan melakukan penghematan menurut saya adalah gebrakan yang dimulai dari diri kita pribadi bukan pemerintah atau lembaga-lembaga lainnya.
Lantas mengapa isu BBM yang akan naik dan penerapan pembatasan terhdap golongan-golongan tertentu saja sangat membuat para mahasiswa-mahasiwa selalu kebakaran jenggot………!!!!!
Padahal belum tentu dari seluruh mahasiswa yang berdemonstrasi tersebut mencari uang dengan tangannya sendiri untuk membeli BBM..!! Pak.. minta jatah uang jajan bulan ini donk….. udah abis…..!!!!! Ucap salah satu mahasiswa pendemonstrasi yang selalu membawa Honda Jazz setiap ke kampus… (ilustrasi buatan saya lho…!!!).
Untuk Bapak SBY
Saya juga sedikit heran dan selalu garuk-garuk kalau mendengar beberapa patah kata dari bapak presiden kita tercinta ini, salah satunya adalah mengenai demonstrasi mahasiswa yang sedang gencar dilakukan, bapak SBY mengatakan “tidak apa-apa kalau mau demonstrasi, asalkan tidak berbuat anarkis….”"
Saya rasa ucapan bapak SBY tersebut sedikit mengendor, padahal baru saja kita merayakan kebangkitan nasional yang usianya sudah cukup tua jika dibandingkan dengan usia manusia biasa. Apa ucapan tersebut ada indikasi ke arah Pemilu 2009 yang tidak lama lagi akan kita laksanakan…?? (ndak tau saya…!!!)
CUKUP SUDAH…!!!
Cukup sudahlah berlagak sok demokratis, saya rasa bangsa ini sudah SALAH KAPRAH mengartikan DEMOKRASI. Saya bukan mahasiswa jurusan Blok-M Politik, Hukum, DSB, Saya hanya pekerja biasa yang selalu naik motor kalau berangkat kerja, SAYA SETUJU BBM NAIK (gak usah pake demo-demoan segala, klo gak setuju jangan beli atau pake BBM), SAYA SETUJU BANGSA INI HARUS MENGHEMAT, SAYA SETUJU KALAU KENDARAAN MOTOR DI INDONESIA DIMUSNAHKAN, SAYA SETUJU MENGGUNAKAN SEPEDA, SAYA TIDAK SUKA ADA DEMO-DEMOAN YANG HANYA SOK JAGO….!!!!
Salam Kebangkitan Nasional


Saya setuju dengan anda..
Saya pikir itumah yang demo bukan mahasiswa.. kayaknya tukang delman disuruh ngaku mahasiswa..
bukannya nyari solusi, bikin rusuh aja..
Memang agak susah menghadapai dilema seperti ini. Harga minyak dunia yang terus merangkak naik. Dan memang agak dilema juga kalau BBM tidak dinaikkan. Tetapi menurut para pakar, sebenarnya BBM bisa tidak di naikkan. Tetapi saya tidak begitu tahu seperti apa formulanya.
DEMO…ah saya juga capek melihat demo di sana-sini. Bukannya saya tidak menghargai kerja keras mahasiswa berdemo. Tetapi konteksnya, masih relevankah demo minta di turunkan harga BBM. Sepertinya tidak…
Soal BLT, saya pikir itu bukan soluasi yang tepat. Harapan saya, cobalah orang2 pinter di negeri ini mencari solusi mengenai harga BBM yang terus naik. Jangan hanya berdebat di televisi, koran dll.
Saya warga biasa butuh solusi, bukan butuh anarki.
Salam buat Bung Mico.
meidy : Setuju yak..?? he..he..
Prayogo : Apa kabar bung yoga, kemana aja, katanya di LIPI sekarang.?? sombong nih udah sukses..?? BBM mah gak usah dipikirin, biarin aja para MAHASISWA yang demo yang katanya gak meresahkan warga….!!!!
anda-anda yang ngomong diatas kan udah kaya nyapain mikir BBM, yang perlu mikirin kenaikan harga BBM ya Rakyat miskin yang hari ini makan besok bingung
Menurut saya demo sangat perlu. Lha wong dengan demo aja pemerintah gak bergeming kok, apalagi cuma dialog, yang logis dong. Memang saya akui juga bahwa kenaikan BBM untuk mengimbangi kenaikan minyak dunia yang terus melambung tinggi, tapi apa tidak ada jalan lain selan menaikkan BBM. Misalnya pengolahan bahan bakar alternatif dan lain-lain
jhona, prim, cukupcs : Emang klo udah kayak gini yah rakyat jelata yang kesusahan, tapi dengan para MAHASISWA demo yang lebih kental dengan anarkis gitu apa malah bikin rakyat gak susah. Bayangin bakar-bakaran, blokade jalanan, atau fasilitas rakyat lainnya.
Jadi memang sulit jika kondisinya ada dipemerintahan banyak perut dan banyak mulut. Jika para MAHASISWA yang demo itu ditaro diatas juga saya rasa mereka bakalan kembung dan bungkam juga ama nasib rakyat, yah minimal berkoar-koar yang sok demokratis.
Balik lagi ke diri kita pribadi, kehidupan pasti akan berjalan normal, yang melarat, yang miskin, yang cukup, yang kaya, yang konglomerat akhirnya akan berjalan dengan selaras. Menurut saya tetep aja INDONESIA ini menuju ke arah SOK DEMOKRATIS. he..he..
Saya tidak pernah mengatakan tidak suka dengan demo. Hanya saja memang belakangan ini, demo sudah benar-benar anarkis. Bukan isu demonya yang di bawah. Dan sepertinya sekarang kalau demo tidak di barengi dengan baku hantam sudah tidak seru lagi. Dan sepertinya kalau demo tidak baku hantam, media juga tidak begitu semangat memberitakannya.
Buat Bung Mico, kabar saya baik-baik saya. Saya saat ini bukan bekerja di LIPI, hanya kebetulan gedungnya di di LIPI. Saya di AIPI-nya…
Sukses Bung, kapan ada projek lagi…
saya nambahi analis semata. TIdak benar kalo mahasiswa itu bodoh atau sia-sia.
Kita ekspor minyak kemudian kita juga impor minyak.
Sebenernya kalo dipikir2, dengan materi bisnis tersebut kita hanya terjebak dengan biaya transportasi. Meng-ekspor ke Eropa pake kapal, asuransi, resiko dll. Impor juga gitu biaya yang kita kelurakan setiap satu liter itu termasuk biaya kapal, asuransi, resiko dll untuk impor.
Ini sebuah pembodohan, Cost terbesar kit adalah transportasi. Minyak milik negara, tetapi pengusaha tarnsporasti dan asuransi eksport import itu memang sebgain milik pejabat2 kita.
Minyak milik rakyat, tidak boleh dimanipulasi.
Saat ini kalo pekerja, petani, pegawaipemda, guru untuk demo jelas toidak ada waktu, sehingga kalo mahaiswa yang demo itu wajar, wajar banget. Siapa lagi kalo tidak mereka, dengan daya tahan yang luar biasa dan lantang. Tidak mungkin hanya berjunag dengan memakai Blog saja, harus action, dan untuk menjaga bergining dengan Pemerintah harus ada yang kontra dengan pemerintah, walau temporari, sebagai bentuk alat kontrol masyarakat.
TOh proses pendewasaan revolusioner di negeri ini semua lewat demontrasi mahasiswa, silahkan buka sejarah tritura, reformasi dll.
Ipan : Saya setuju pendapat bung ipan bahwa mahasiswa tidak bodoh, saya hanya meyayangkan aksi demo yang disertai tindak kekerasan. Kalau mau diadu antara mahasiswa dengan aparat, pasti mahasiswa ujung-ujungnya mati konyol. Jadi tindak kekerasan itu yang menurut saya BODOH. Masalah BBM naik saya rasa pemerintah juga punya perhitungan sendiri, karena kita juga tau banyak sekali mulut dan otak yang ada dipemerintahan sana.
Memang banyak pakar yang berani mengatakan bahwa BBM tidak perlu naik, tapi ujung-ujungnya mereka cuma OMONG DOANK. Lah para pakar itu orang-orang beduit juga kan, yang susah kan rakyat kecil.
saya juga setuju,,,,
saya juga gak suka dengan aksi2 mahasiswa yang sok mendemo setiap ada permasalahan..
harga naik–demo
BBM naik -demo
pengangguran naik–demo
mahasiswa bisanya menyalahkan pemerintah aja padahal mereka sendiri nggak pernah punya prestasi apa2…
kenapa nggak mereka yang membuka lapangan kerja, kenapa gak mereka yg berusaha melepas ketergantungan BBM..
selama ini gak ada tuh hasil karya mereka yang bisa dibanggakan kecuali tawuran, demo dan menambah angka pengangguran..
kesalahan mensubsidi BBM telah dimulai dari jaman Suharto!,negara yang mensubsidi BBM adalah negara kaya
urutan Murahnya)1.Kuwait,2.Brunei daruss,3.Indonesia.Mengapa kita yg ktnya negara miskin menjual harga BBM ke-3 paling murah dari harga pasar???.Saya lebih setuju BBM tidak usah disubsidi jd harganya Rp.13.000 an / liter. uangnya untuk Sekolah Negeri gk bayar, Berobat ke Dokter gk bayar, ngurus surat-surat gratis kan enak.Paling kl ky saya hanya pk motor perhari menikmati subsidi pemerintah dr BBM =2literxRp.7.000,- =14.000,-.tp bayangkan orang yg pny mobil 4.perhari make BBM min:40 liter maka minimal orang kaya dapet subsidi =Rp.280.000,-/ hari. Ini yang bego Pemerintah atau Rakyatnya???. Pemerintah bego krn ngasih subsidi salah alamat, Rakyatnya bego karena subsidi salah alamat didukung dengan mendemo BBM naik. Saya juga mahasiswa,tetapi mari kita berfikir yang logis dan dg data akurat. Spy kl kt yg kepilih jadi Pemerintah gk ikut2an bego pak..!. Intinya saya menentang subsidi BBM karena sy hny pny motor!!, Pemerintah gk usah subsidi BBM, uangnya pake untuk bangun negara aja. Tp jgn di Korupsi! gw sumpahin kualat loh yang korupsi!!!
Subsidi itu sebenernya apa sih?????
Kalo rakyat beli 1 liter 5000,sedangkan ongkos produksi 6000, berarti subsidi 1000????.
Pertanyaannya ongkos produksi itu apalah layak??? Di zaman megawati Kwik Kian Gie dan ekonom sudah menghitung Ongkos Produksi minyat itu cuman Rp. 630/liter. Tapi karena Standar gaji di Pertamina besar maka komposisi banyak hal jadi tidak terukur, lulusan SMA di Pertaminan di bagium umum (dengan resiko fisik rendah bisa nyampai 15juta/bulan)
Jangan bandingkan harga minyak dengan luar negeri, faktor Ekonomi Mikro dan Makronya jelas berubah. Minyak bisa 13.000,karena standar gajim trasnportasi, komunikasi dan partipisasi untuk bantu biaya pendidikan+pembangunan di sana memang tinggi,kalo di nisi partisipasinya masih rendah loh, masih banyak ngandalin Pajak juga.Segelas teh di sana bisa 15.000, jadi kalo minyak 13.000, artinya segelas teh lebih mahal dari minyak, atau mungkin tidak teh parameternya, mungkin bisa yang lebih makro.
Terimakasih.
rangga, Ipan : klo masalah itung2an subsidi BBM saya juga lebih milih gak setuju,terus masalah itung2an solusi BBM kita jangan dibandingkan dengan harga luar negeri saya juga bingung, biarin pakar aja ygn itung2an.
Saya kasihan ngeliat temen2 yang katanya MAHASISWA ribut mulu, korban fisik dan hati cuman untuk masalah BBM aja, mendingan mereka anteng2 belajar biar bisa benerin negara kita tercinta ketika mereka lulus nanti.
subsidi pengertian pemerintah sekarang kalau yang saya lihat adalah yang seharusnya pemerintah dapatkan dari Migas, sesuai dengan harga New York. Pemerintah masih takut dg Amrik. Padahal beli dari Suddan aja lebih Murah. yang saya tau udah beli dari Suddan tapi ko pake Harga Amrik?, sisanya kemana?. Yang dikeluarkan oleh Pemerintah memang gk nyampe 1000/liter. tapi sy lebih setuju Migas dijual dg Harga New york aja. Pasti pendapatan negara jauh lebih besar. daripada untuk yg orang kaya tadi yang punya mobil banyak. Harga Minyak menurut ahli-ahli ekonomi katanya kalau ingin meningkatkan negara harus disesuaikan dengan harga minyak dunia. Supaya masyarakat lebih berusaha. Sekali lagi pa ipan, saya hanya pake BBM 2 liter / hari. tidak seperti orang kaya yang bisa 40 liter minimal seharinya. Dana dari Migas untuk bentuk BUMN tentang Transportasi murah saja saya lebih setuju.
Hasi saya baca koran pagi, 50% usaha transportasi rakyat sudah mulai tidak berfungsi, dan dikawatirkan bankrut sebagaian. Lalu nelayan banyak beralih usaha karena BBM untuk melaut tidak sepadan dengan hasil. Banyak penjual gorengan mulai tidak buka, minyak tanah mahal, tepung naik drastis (faktor BBM, dll), juga minyak kelapa melonjak luar biasa, harga kedele naik akhirnya tempe tahu juga naik.
Pertanyaannya, apakah itu dampak keberhasilan penghilangan subsidi?? Dinaikin 10.000 pun pengusaha itu tidak semati/sebangkrut mereka-mereka itu. Karena jejaring Cash FLow nya lebih stabil daripada rakyat kecil.
Untuk menghilangkan kerakusan makan ikan paus, bukan berarti lahan makan si ikan tongkol juga di kurangi/dibatasi/diisolasi dengan regulasi harga.
Perekonomian swa/atau madari negara berkembang seharunya menik beratkan pada minimal 3 pilar harga/unsure dasar pembangunan masyarakat:
1. Murah/terjangkaunya biaya kesehatan dan jaminan
kesehatan (Dengan BBM naik biaya operasioal makin tinggi)
2. MUrahnya/terjangkaunya biaya pendidikan dan jaminan fasilitas pendidikan yang kondusif teritegrasi negara(Dengan BBM naik biaya operasioal makin tinggi)
3. Murahnya faktor biaya dasar masyarakat /Public Needed, antara lain : minyak, beras, sembako,dll
Jadi kalo mahasiswa DEmo, asal aspiratif maka lebih terhormat daripada DPRD, POlisi yang berkelahi di Rapat dan kantor2 mereka.
napa BBM harus dinaikan lagi,,,kasihani dunk rakyat kecil,,,jadi kesel ni..