Pukul 06:00 WIB saya sudah siap berangkat ke kantor, dengan mengendarai sepeda motor bebek menuju ke arah Pondok Pinang Kebayoran Lama. Karena lokasi kantor melewati jalur padat merayap Cirendeu dan Lebak Bulus, saya lebih memilih jalur alternatif melewati Kampung Utan Ciputat – Rempoa – Komplek Deplu Bintaro hingga sampai di Jl. H. Banan Pondok Pinang.
Namun jalan tersebut tidak seperti yang saya harapkan, istilah padat merayap yang biasa digunakan oleh jalur tol berlaku juga untuk jalan alternatif yang saya lewati tersebut.
Kemacetan sudah terjadi mulai dari Masjid Rempoa hingga pertigaan Komplek Deplu, jalan yang hampir dipenuhi oleh kendaraan roda empat dan roda dua terlihat tambah sesak dan tidak dapat bergerak. Kecepatan sepeda motor hanya dapat berlaju dikecepatan 5-10 km, dapat kita bayangkan betapa menyebalkan kondisi tersebut.
Jika setahun lalu saya masih sering berangkat kerja pukul 06:30 WIB, ditahun ini terutama sejak naiknya tarif tol dan dibangun jalur-jalur busway, saya harus memajukan waktu berangkat agar tidak terkena kemacetan di jalan.
Ternyata tidak hanya saya saja yang merasakan macet ketika berangkat bekerja, hampir semua orang yang bekerja menuju Jakarta pasti akan terkena kemacetan. Berita di koran, radio, maupun televisi mengangkat kemacetan menjadi headline utama yang menarik untuk disorot.
Lalu apa solusi untuk mengatasi kemacetan yang sudah menjadi ikon untuk Ibu Kota Jakarta kini…???
Kalau saya sendiri lebih memilih pemerintah melarang seluruh kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat untuk melintasi jalan-jalan Jakarta, sebagai penggantinya pemerintah menyediakan transportasi memadai serta murah yang dapat mengantar para pekerja, pelajar atau siapapun yang beraktifitas di kota Jakarta.
Busway solusi atau bukan …??
Sulit mengatakan busway yang diresmikan pada era Sutiyoso menjabat ini adalah solusi transportasi murah dan dapat menjangkau seluruh bagian Jakarta serta dapat mengurangi kemacetan. Sejak busway diluncurkan, kemacetan di Jakarta tak kunjung berakhir, malah semakin parah.
Mungkin kita dapat meniru kaum borjuis yang menggunakan helikopter sebagai transportasi alternatif untuk beraktifitas di Kota Jakarta tercinta ini.
Hi, my name is MicoKelana, I'm an experienced web developer from Jakarta, Indonesia. I'm familiar with Open Source CMS such as Joomla, Drupal & Wordpress. See my portofolio: at 


isu kemacetan adalah yang paling sering di blow up lately, but however ada masalah yang lebih sakral dan menakutkan yang harus kita waspadai … what? STRESS and EMOTION …
Yess … dengan keadaan jakarta yang makin semrawut maka kondisi psikis warga jakarta dan kota satelit disekitarnya secara perlahan namun pasti menjadi makin cepat emosi yang tanpa disadari berdampak terhadap aktivitas berekonomi dan pengambilan keputusan …
then what? … perilaku orang jakarta akan makin semrawut sejalan dengan semrawutnya jalanan jakarta …
lalu harus bagaimana lagi? … well just take a deep breath every time u get stuck in a traffic jam … kita cuma bisa berdoa kapan pemerintah kita akan sadar????