Bukan saya lho yang kawin, tapi melainkan saya habis nonton salah satu film lokal yang belum lama ini ditayangkan dibeberapa bioskop-bioskop di kota-kota besar di Indonesia. Film lokal kali ini berjudul agak kebule-bulean, yah mungkin biar lebih keren aja film tersebut berjudul Get Married.
Jangan melihat judulnya yang agak barat dan sedikit meniru gaya film-film barat, tapi teryata isi dari film tersebut lebih menggambarkan kehidupan kampung dan agak norak. Ditengah film-film lokal yang menonjolkan budaya barat yang kental dengan riasan wajah yang serba menor dan menampilkan gadget-gadget terbaru. Di film ini yang ada hanya celana pendek dan segelas kopi tak lupa dibumbui banyak humor yang akan membuat para penontonya tertawa sambil tak kuat menahan untuk berteriak.
Film siapa sih ini ..??
Katanya sih sutradaranya Hanung Bramantyo, oh ternyata bener Hanung yang membuat film tersebut.
Siapa sih artisnya..???
Tentunya setiap film yang lebih penting adalah para aktor yang memerankan tokoh dalam film tersebut, kali ini peran sutradara tidak terlalu kelihatan.
Mae, Guntoro, Eman dan Beni merupakan empat sahabat yang mulai berteman sejak didalam kandungan ibunya masing-masing. Aneh memang kedengarannya, tapi hal tersebut benar terjadi, keempat sekawan tersebut telah berteman sejak masih dalam kandungan hingga mereka benar-benar bisa dibilang sudah dewasa. Mae merupakan satu-satunya perempuan dari keempat sekawan tersebut, tentunya Guntoro, Eman dan Beni adalah laki-laki.
Permasalahan mulai timbul ketika mereka berempat dibilang dewasa, Mae yang telah lulus sarjana sekretaris, Guntoro lulus kursus komputer, Eman jebolan pesantren, dan si Beni lulus sekolah singkat pertanian. Sialnya pendidikan tersebut bukan bagian dari obsesi mereka berempat. Mae yang sebenarnya ingin menjadi Polisi Wanita, Guntoro ingin menjadi pelaut, Eman ingin menjadi politisi dan si Beni ingin menjadi petinju. Karena kesialan mereka tersebut mereka mengklaim diri sebagai anak muda paling frustasi di Indonesia.
Ternyata memang sial tidak ada satupun dari mereka yang bekerja, jadilah mereka pengangguran tulen. Melihat hal tersebut tentunya orangtua tidak tinggal diam, Pak Mardi (Jaja Miharja) dan Bu Mardi (Meriam Belina) yang merupakan orangtua dari Mae tidak ingin anaknya kandas ditengah jalan dan tidak dapat melanjutkan sejarah keturunan orangtua, Mae yang merupakan putri satu-satunya pak Mardi yang bersifat layaknya seorang pria jantan ini akhirnya ingin di jodohkan layaknya cerita Siti Nurbaya pada zaman dulu. Tanpa pikir panjang dan tidak ingin dibilang anak durhaka maka Mae pun menuruti keinginan orangtuanya.
Calon jodoh Mae pun mulai berdatangan ke rumah pak Mardi, mulai dari tipe pria 80an yang bekerja sebagai guru hingga pria perkasa layaknya binaraga telah datang kerumah Mae, dan anehnya kesemua calon tersebut menyukai Mae, tetapi ketiga kawan Mae yang memberikan gelar primadona kepada Mae tidak ingin tinggal diam, mereka ternyata diberi tugas untuk menghalangi agar para calon jodoh tersebut tidak kembali lagi kerumah Mae, dan usaha ketiaga kawan Mae membuahkan hasil, para calon jodoh tersebut tidak ada yang kembali lagi.
Tiba-tiba saja ada pemuda tampan bernama Rendy (Richard Kevin) datang kerumah pak Mardi ingin bertemu dengan Mae. Pucuk di cinta ulam pun tiba, ternyata Mae langsung jatuh hati kepada pemuda tampan lulusan luar negeri tersebut. Tanpa pikir panjang Mae langsung memberikan isyarat kepada ketiga kawannya yang bertugas berjaga-jaga diluar rumah, dengan dua tanda merah sebagai rasa penolakan dan hijau sebagai tanda rasa suka, maka Mae memberikan tanda hijau untuk pemuda tampan yang bertamu kerumahnya.
Dasar sial ternyata si Eman yang bertugas berjaga-jaga untuk melihat tanda isyarat dari Mae. Mae dengan berbunga-bunga dan penuh senyuman memberikan kain berwarna hijau sebagai tanda sukanya kepada pemuda tersebut. Kesialan bertambah ketika si Eman adalah pemuda buta warna yang hanya mengetahui warna hitam dan putih saja. Alhasil si Rendy pemuda tampan tersebut dihalang-halangi dan diberikan pukulan oleh ketiga kawan Mae tersebut.
Kedua orangtua Mae sempat putus asa karena tidak ada satupun calon yang nempel di hati anaknya. Jalan pintas pun ditempuh dengan menemui dukun cabul yang berniat ingin membantu, untung saja ketiga kawan Mae selalu berada di samping Mae untuk membantu. Karena putus asa ibunda Mae pun kena sakit yang cukup kronis yang mengakibatkan harus di opname di rumah sakit.
Mae yang sedih mendengar ucapan ibunya yang selalu menyebutkan kata kematian tidak tinggal diam. Akhirnya Mae memutuskan agar ketiga kawannya Guntoro, Eman dan Beni salah satunya harus menjadi suami Mae. Mendengar kata tersebut ketiga kawannya tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka bersahabat sejak lama, dan mereka tidak terlibat hubungan percintaan, namun demi Mae mereka rela mengorbankan cinta mereka. Dengan melakukan undian mereka bertiga akhirnya mendapatkan calon suami untuk Mae, Guntorolah yang menjadi calon pertama, namun usaha tersebut gagal ketika Guntoro mendadak harus di opname di rumah sakit, berikutnya tinggal Eman dan Beni, mereka berdua melakukan perundingan hingga Emanlah yang diputuskan untuk menjadi calon suami Mae, tapi dasar sial Emanpun harus di opname di rumah sakit dengan sakit yang tidak jelas.
Maka tidak ada pilihan lain selain si Beni yang masih segar-bugarlah yang akan menikah dengan Mae. Kedua keluarga telah setuju untuk menikahkan putra dan putri mereka, penghulu pun sudah datang. Pernikahan yang dilakukan dengan adat betawi yang cukup kental tersebut dimulai.
Sialnya 3 kali si Beni salah menyebutkan Ijab Qabul yang menyebabkan jalannya pernikahan tertunda. Ditengah-tengah acara pernikahan Rendy pemuda tampan yang pernah datang kerumah Mae pada waktu itu berniat balas dendam dengan kelakuan ketiga orang sahabat Mae. Rendy pun ternyata mencintai Mae yang menurutnya masih orisinil. Dengan bantuan pemuda dan pemudi komplek rumahnya Rendy menyerbu kampung Mae untuk membalaskan dendamnya.
Tawuran pun tidak dapat dihindari, seluruh warga kampung emosi melihat kampung mereka disatroni oleh gerombolan pemuda menggunakan motor besar. Pukul, tendang, lempar dan perilaku liar layaknya tawuran yang sering terjadi di negeri tercinta ini terjadi, hingga warga kampung pun kekurangan pemuda, akhirnya Guntoro, Eman, Beni dan Mae pun ikut terlibat dalam tawuran tersebut, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang melakukan seremonial pernikahan.
Memang dasar film komedi, ditengah-tengah perkelahian Mae dan Randypun berpapasan, hingga akhirnya mereka sadar bahwa semua itu adalah salah paham, dan pilihan damai antara warga kampung dan gerombolan pemuda komplek tersebut berhasil dihentikan oleh Mae dan Rendy. Pestanya bubar……
Guntoro, Eman dan Beni meminta maaf kepada Rendy atas semua ulah yang mereka lakukan pada saat itu…
Kurang lebih seperti diatas cerita lengkap film Get Married yang di sutradarai oleh Hanung Bramantyo tersebut. Ide cerita yang sederhana dibumbui kental oleh komedi ditambah peran aktor-aktor seperti Nirina Zubir (Mae), Desta Club Eighties (Guntoro), Aming (Eman) dan Ringgo Agus Rahman (Beni).
Ditengah genre film horror yang menguasai studio bioskop-bioskop di Indonesia film Get Married ini menurut saya dapat memberikan suasana segar bagi para pecinta film lokal.
Hi, my name is MicoKelana, I'm an experienced web developer from Jakarta, Indonesia. I'm familiar with Open Source CMS such as Joomla, Drupal & Wordpress. See my portofolio: at 

